Setidaknya Berbahagialah

Dua malam berturut-turut memimpikan kamu, membuatku terus bertanya-tanya bagaimana kabarmu sekarang? Sudah sekian lama kita jadi orang asing satu sama lain, tidak ada saling mengabari. Yah, tentu saja karena akan terlalu membingungkan rasanya bila kita masih saling mengabari satu sama lain.
Karena mimpi itu aku jadi sedikit memikirkanmu, tepatnya memikirkan kamu dan aku yang pernah menjadi kita di masa lalu.

Kita (dulu) segalanya terlalu mudah dari awal. Hubungan kita berjalan tanpa masalah yang berarti, hanya sikapku yang sedikit merepotkanmu. Aku yang suka ngamuk tidak jelas dan kamu yang hanya akan menanggapiku dengan diammu lalu beberapa jam kemudian kita kembali baik-baik saja, atau saat aku ngambek lalu meminta putus kamu yang tidak pernah menanggapi kata putusku lalu beberapa hari kemudian kita akan baik-baik saja. 
Mungkin karena itu saat kita dihadapkan pada masalah yang berat, kita berdua tidak mampu menghadapinya. Kita tidak siap untuk hal-hal yang berat, tepatnya aku yang tidak siap untuk hal yang berat. Hingga pada saat ada orang lain yang menginginkanmu, aku memilih melepaskanmu untuknya. Aku terlalu malas untuk berhubungan dengan perempuan asing yang tiba-tiba hadir menginginkanmu, perempuan yang entah bagaimana kamu mengenalnya. Kamu tentu tahu betapa malasnya seseorang sepertiku bertemu orang asing, apalagi seorang agresif sepertinya yang dengan penuh percaya diri berkata dia akan merebutmu dariku. 

aku bukan seorang pemikir jadi ketika ada masalah aku lebih senang memilih jalan terakhir daripada harus memikirkan jalan terbaik.

Harus kuakui memang cintaku tidak sebesar kamu. Dari dulu aku selalu memilih mundur, kamulah yang selalu memilih mempertahankanku. Dan kesalahanmu adalah kamu tidak pernah mengajari aku cara memperjuangkanmu. Hingga akhirnya kita memilih menyerah. Tidak ada diantara kamu dan aku yang ingin memperjuangkan kita lagi. Entah, mungkin cinta kita yang lemah atau kamu juga sudah lelah bertahan sendirian.
Sejujurnya, saat kamu sedang ada masalah dan orang-orang berkomentar aneh tentangmu, terkadang ada rasa bersalah yang menyelimutiku. Mengapa aku membiarkanmu pergi dengan orang seperti mereka. Mengapa aku tidak punya rasa yang besar untuk mempertahankanmu. Aku tidak memiliki cinta yang hebat untuk memperjuangkanmu. Bahkan aku bisa tersenyum bahagia sesaat setelah melepasmu pergi tanpa pernah memastikan perempuan seperti apa yang akan menemanimu, lingkungan seperti apa yang kamu masuki. Sesedikit itukah rasaku padamu? Kadang aku merasa bingung dengan diriku. Bagaimana mungkin orang yang bertahun-tahun bersamaku, menemaniku kemanapun aku pergi bisa kulepas begitu mudahnya. Aku bahkan tertawa tanpa rasa sakit saat melihat fotomu dengan perempuan lain, ah apa aku mati rasa?

Tapi, disaat seperti ini aku seperti memikirkan banyak hal, kalau saja aku memperjuangkanmu kala itu, apakah keadaannya akan berbeda? Apakah hubungan kita masih akan bertahan?

Tapi, sepertinya bagi seorang wanita pendendam sepertiku walau akhirnya aku mempertahankanmu semuanya akan tetap berbeda. Bagaimanapun kamu sudah mencoba berjalan di luar jalur kita, dinding hubungan kita sudah retak, celahnya sudah sangat cukup untuk dimasuki orang ketiga. Mempertahankannya sama saja dengan menunggu kehancuran yang lebih besar. 

Betapa pun kamu berkata bahwa perempuan itu hanya sebuah keisengan, hanya sebuah kesalahan, kamu tidak akan pernah menukarku dengan dia, dan semua kalimat yang kamu ucapkan untuk mempertahankanku, sama sekali tidak ada artinya lagi, tidak cukup untuk kembali merekatkan celah itu. 

Aku benar-benar tidak menemukan alasan untuk bertahan apalagi mempertahankanmu.

Aku melepasmu-aku melepaskan diri dari gangguan perempuan asing yang percaya diri tidak pada tempatnya.



Walaupun kamu masih saja dipenuhi penyesalan akan langkahmu melepaskanku. Walaupun sebagian hatimu masih saja tentangku. Walaupun perempuan itu tidak pernah benar-benar bisa memenuhi hatimu. Tapi, berbahagialah. Setidaknya dihadapanku, berpura-pura lah. Agar tidak perlu ada penyesalanku untukmu. Agar aku tidak merasa keterlaluan saat aku terlalu baik-baik saja tanpamu. Jangan lagi biarkan aku mengetahui bagaimana penyesalanmu. Biarkan aku melihat kamu menikmati hidupmu, dan seharusnya memang seperti itu. Berbahagialah. Temukan perempuan yang lebih baik lagi, jangan mengulang kesalahan-kesalahan masa lalu. Hiduplah lebih baik di masa depan dan semoga tidak ada lagi situasi tidak beruntung lainnya yang mempertemukan kita di masa depan.

Teman Hidup

Namanya Rini. Mahasiswa tingkat akhir yang sedang bergelut dengan skripsi. Dia memiliki keanehan, hanya bersemangat mengerjakan tugas akhir itu kala malam datang. Siang berlalu begitu saja, sia-sia.
Suatu hari dia menemukan lowongan kerja, sebuah warung makan di salah satu komplek perkantoran. Tempat makan itu tidak buka sampai malam. Dia memutuskan melamar untuk mengisi waktu dan ternyata dia diterima. 

“Toh masuknya tidak pagi-pagi banget dan pulangnya juga enggak sore amat,” pikirnya.

***
Senyum ceria menghias wajah Rini sejak pagi. Duduk di balik meja kasir lincah melayani pelanggan yang silih berganti. Bukan semata-mata untuk pelayanan hingga senyum itu tak berhenti merekah. Ada seseorang yang memikat hatinya, salah satu langganan di warung tempat dia bekerja. Dia baru menyadari perasaan itu sebulan belakangan.      

Pukul 12.00 jam istirahat. Sebagian besar pekerja sudah menjadi langganan di tempatnya. Jam-jam sibuk tapi menyenangkan, karena itu berarti lelaki itu akan segera muncul dengan senyum manis dan keramahannya.

“Halo dek,” sapa lelaki itu sambil menyodorkan uang bayaran makan siangnya.

“Hai, mas…” Rini gugup.

“Capek ya, dek?”

“Hehehe… enggak kok mas.”

“Wah, kamu bersemangat sekali dek,” puji lelaki itu sambil mengangkat jempol.

“Hehehe… makasih mas.”
Lelaki itu berlalu meninggalkan ribuan kupu-kupu yang lalu lalang di hati Rini.

“Ah… besok libur, nunggu Senin lagi buat lihat mas itu,” gerutunya dalam hati.

***
Kalau ada pekerja yang tidak semangat menyambut hari Senin sampai banyak yang berkata I hate Monday atau menyebutnya Mon(ster)day maka itu tidak berlaku bagi Rini. Hari ini dia bangun pagi-pagi sekali padahal semalam lembur mengerjakan revisi skripsi.

Rini berdendang sejak pagi, di kamar tidur –saat beres-beres tempat tidur–, di kamar mandi, di angkot, di trotoar. Semua orang yang dia jumpai mendapat sedekah senyumnya. Matahari meninggi semangatnya ikut meninggi. Mendekati jam makan siang, senyumnya kian mengembang. Sambil terus menatap ke jalan mencari seseorang.

Rini memutar-mutar benda yang melingkar di pergelangan tangannya sambil sesekali memandangi jam di dinding, mencocokkan. Waktu istirahat sudah usai tapi sosok itu belum juga muncul. “Mungkin sibuk,” ucapnya pada diri sendiri. Namun, hingga warung tutup sosok itu tidak kunjung menampakkan diri. Rini pulang dengan langkah gontai. Semangatnya meredup seiring matahari yang mulai beranjak ke barat.

Esoknya, Rini kembali bersemangat. Hari ini dia memutuskan untuk mencari tahu. Kalau sosok itu tidak datang lagi dia akan bertanya pada siapa saja di warung, barangkali ada yang bisa memberi jawaban yang menenangkan.

Rini malas-malasan, tidak memperhatikan pengunjung yang mulai berdatangan. Tiba-tiba satu suara yang sangat dia kenal menyapanya.

“Hai, dek.” 

“Hai, mas,” jawab Rini dengan senyum merekah.

“Aku makan dulu ya dek.” Sambil menepuk-nepuk perutnya. Terlihat kelaparan.

“Iya mas, silahkan.”

Senyum kembali menghias wajah Rini. Dia menunggu di balik meja kasir. Menanti giliran lelaki itu menghampiri.

“Berapa dek?”

“Masih seperti biasa kok mas, belum ada kenaikan harga.”

“Hehehe… iya.”

“Eh… mas… kok kemarin ga makan di sini?” tanya Rini ragu-ragu.

“Oh iya kemarin ga masuk kerja.”

“Mas… sakit?”

“Enggak, teman mas yang sakit jadi seharian ngejagain di rumah sakit,” lelaki itu menuturkan, “tapi sudah baikan jadi sudah bisa ditinggal, mungkin nanti sore bisa pulang ke rumah.” 

“Wah, mas baik banget sih. Teman aja ditungguin sampai gak masuk kerja,” Rini tersenyum semakin kagum.

“Iya dong dijagain, karena yang sakit itu teman hidup mas,” jawab lelaki itu sambil tersenyum.    

“Oh….”

“Hehehe iya dek, balik dulu ya jam istirahat udah habis nih.”

“Eh… iya… mas.”

Lelaki itu berlalu. Tinggallah Rini tertegun dengan cairan bening yang mengaburkan tatapannya. Rini sedang dipaksa menatap kenyataan yang terlalu benderang hingga membuat matanya perih. 

-end-

Tentang Mengingat

Ternyata tidak ada yang benar-benar bisa kita lupakan, bahkan disaat kita merasa yakin telah melupakannya. Segalanya hanya seperti menunggu saja, menunggu waktu untuk kembali kita ingat.

Akan selalu ada keadaan yang membawamu kembali mengingat seseorang, tidak peduli betapa kau tidak menginginkan untuk mengingatnya lagi. Seseorang yang paling ingin kau tenggelamkan ke dasar lupa yang paling dalam.
Akan selalu ada keadaan yang mengingatkanmu, entah dari wangi yang tidak sengaja kau hirup, sesuatu yang tidak sengaja tertangkap oleh kedua matamu, atau sebuah lagu yang sayup terdengar dari kejauhan. 

Sesuatu yang mampu membangunkan ingatanmu, sesuatu yang menyentuh relung terdalammu. Keadaan yang membuatmu sejenak sesak dan hanya mampu berkata pada diri sendiri “Ya, dia pernah di sini.” sambil tersenyum dengan mata yang berkaca – kaca kamu menenangkan diri sendiri. 

Seseorang yang pernah membuat jantungmu berdebar dengan indah. Seseorang yang tidak bisa kau benci meski luka yang dia tinggalkan begitu menyakitkan. Seseorang yang telah kau maafkan tapi tidak bisa kau terima kembali dalam kehidupanmu. 

Bagimu, mengenangnya sesekali sudah cukup. Di dunia ini beberapa hal memang tidak bisa kembali, beberapa pengampunan tidak satu paket dengan kesempatan kedua, beberapa kisah tidak memiliki masa depan, beberapa nama ditakdirkan tertulis dalam ingatan saja.

Rindu

Pernahkah tubuhmu mencoba memeluk diri sendiri?

Rasanya begitu menyakitkan menyadari dua organ dalam tubuhmu tidak lagi sejalan. Bahkan salah satunya seperti tidak memihak pada tubuhmu lagi.

Seperti ketika otakmu memikirkan untuk berhenti tapi debaran jantungmu terus saja mencarinya. Logikamu terus menerus memberi petunjuk tapi jantungmu terus menerus mencari diantara debarannya, terus berdebar hingga hatimu merasa kesakitan karenanya. 

Kamu mencoba memeluk diri sendiri, berharap bisa meredam debar yang menyakitkan. Tapi, pelukan tubuhmu tak mampu menenangkan diri sendiri. Hati selalu saja memilih jalannya sendiri, logika selalu kalah cepat.

Hatimu sedang tidak membutuhkan raga dimana ia bernaung, yang dia cari hanya sosoknya, sosok lain yang membuat jantung tak mampu berhenti berdebar hingga terasa menyakitkan.

Entah hati terbentuk dari apa hingga begitu senang melukai diri sendiri.

Sudahlah, semakin kamu melawan, hati akan semakin kesakitan.
Ini bukan soal pertemuan, terkadang rindu hanya butuh pengakuan.

Doaku untuknya

“Desau angin menebar bau karang Mengirimkan pesan ketegaran

Wahai dikau yang sedang gamang Jangan pernah putus harapan”

Saat sulit, saat mimpi-mimpi kembali berbenturan dengan kenyataan, saat ujian hidup kembali menyapa, saat seluruh semangat seperti tidak tersisa, saat pikiran tidak mampu lagi memikirkan hal-hal baik. Saat itu, satu-satunya yang terlintas dalam pikiran kita adalah seseorang yang kita cintai.

Aku sendiri, di saat melewati masa seperti itu, aku tidak butuh penyemangat dari banyak orang. Aku hanya ingin satu orang yang sangat berarti bagiku, duduk di sampingku, menggenggam erat tanganku, mentransfer energi positif lewat jari-jariku dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. 

Hal yang sangat menyedihkan adalah saat melihat orang yang kita kasihi menghadapi masa-masa sulit itu dan kita tidak bisa hadir untuknya —karena keadaan yang tidak memungkinkan. Ketika kita hanya bisa meneteskan air mata dan melihatnya dari kejauhan. 

Jangan terlalu berduka ketika kamu hanya bisa memeluknya lewat doa. Dia terpilih melewati ujian itu karena Tuhan tahu dia mampu. Doa adalah senjata orang-orang beriman. Doa akan menemaninya lebih dari apapun.

Untuk seseorang yang aku sayangi, yang saat ini sedang terpilih diuji olehNya; jangan lupa bahwa Tuhan itu Maha baik, DIA tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hambaNya. Aku tahu kamu sosok yang tangguh, kamu mampu melewati ini. Jangan menghitung-hitung ujianNya, ingat lagi seluruh nikmatNya yang telah DIA beri. Jangan pernah berhenti mengucap syukur sesulit apapun situasinya. Tatap lagi wajah orang-orang yang mencintaimu–orang yang kamu cintai, mereka yang setia di sisimu, mereka adalah semangat hidupmu.

Sekejap Senja Sepanjang Malam

Serupa senja, kau hadir begitu saja dalam hidupku.
Aku yang tengah takut menghadapi gelap, terpikat begitu saja.
Siapa menyangka, kau yang begitu menawan hati ternyata tengah berjalan menuju kaki langit, bersiap menyapa belahan bumi yang lain, meninggalkanku.

Secepat senja, kau berlalu dari hidupku. Setelah kau bius aku dengan pesonamu. Setelah janjikan setitik cahaya di hadapan kegelapan yang tengah menujuku.

Singkat yang terlalu indah, sisakan jingga yang membekas kuat dalam ingatanku. Aku tidak mampu
menghapusmu. Luka ini terlalu manis.

Rupanya Kau senja yang hadiahkan malam panjang nan gelap tanpa kehadiran gemintang. Aku kehilangan petunjuk arah pulang. Tinggallah Aku bagai serigala melolong pada bulan yang tak terjangkau. Hanya burung hantu yang mengerti kelamnya malam-malamku.

Kau yang kusangka merpati pembawa kabar baik, rupanya hanya kawanan kelelawar tersesat yang menjarah pepohonan yang sedang berbuah ranum. Kau memangsa seluruh milikku, menerbangkanku lalu menjatuhkanku seenakmu sesukamu.

Sekejap senja kau menghilang
Sepanjang malam aku mengenang.

Hati Yang Kepanasan

Sang raja siang sedang bertengger di singgasananya, memamerkan keperkasaannya kepada semesta, panas terik. Cacing-cacing di perutku riuh minta jatah, tak mau mengerti udara panas di luar sana.

Berat kulangkahkan kaki ke warung di seberang kantor “duh, ini panas banget” batinku.

Saat masuk, mataku tertuju pada sepasang kekasih yang duduk di sudut ruangan.
Dia, sosok yang pernah mengisi relung di hatiku, meskipun hanya sebuah rasa yang tidak berbalas tapi aku menikmatinya.
Aku cukup bahagia dengan hanya melihat dia dari jauh,
diam-diam, dan tak tertangkap radarnya.

Dia seorang yang gigih, dia memperjuangkan hal yang dia inginkan dalam hidupnya. Sayangnya aku tidak termasuk dalam daftar keinginannya.

Andai saja, ah bagaimana rasanya diinginkan olehmu? bagaimana rasanya diperjuangkan olehmu? Ah, mengandai-andai tidak bagus untuk kejiwaan, kata temanku.

Kipas angin itu sia-sia saja berputar, aku tidak bisa merasakan keberadaannya. Suasana di warung ini terasa lebih panas.

“Bu… pesan nasi goreng super
pedas satu kerupuknya yang banyak sama
es teh satu banyakin batu esnya ya.” Teriakku kencang dalam sekali ucap.
Semua mata akhirnya tertuju padaku.
Sepertinya jiwaku memang terganggu.

***end***